26 C
Jakarta

Cerpen Akhiri Jalan Ini, Temani Sejenak Waktu Senggang Anda!

Intenselynews.com – Buat kamu yang hobi membaca cerita pendek (cerpen), hari ini intenselynews sajikan cerita pendek Akhiri Jalan Ini buat menemani sejenak waktu senggang kamu di sela kesibukan. Yuk, kita simak bersama-sama!

Cerpen Akhiri Jalan Ini

Semua kebahagiaan yang sempat ia rasakan, rupanya hanya numpang lewat. Berganti kepedihan yang tak lekang oleh waktu. Setelah teriakannya menggema di ruang serba putih itu, dan wajah seorang wanita berpakaian seperti suster mencibirkan bibir ke arahnya, bermacam bayangan menakutkan memenuhi benaknya. Wajah tidak berdosa itu…. Seakan menyeringai ke arahnya. Mengutuknya dengan sumpah serapah yang menyayat hati. Tapi semua itu bukan keinginannya. Setahu dia, kekasihnya mengajaknya ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan, tapi nyatanya di tempat itulah ia terbaring….

Satu bulan yang lalu, ia memberitahu kekasihnya tentang kehamilannya. Kekasihnya hanya tersenyum kecut. Tanpa kata. Esoknya, lelaki itu meminta untuk menggugurkannya. Ia menolak. Ia merasa perjalanan yang mereka tempuh ketika melewati masa-masa pacaran telah menyimpang, dan ia tak ingin tersesat lebih jauh lagi. Oleh karenanya ia memilih mempertahankan sang jabang bayi.

“Kau harus bertanggung jawab,” katanya.

Laura dan Praz, keduanya masih memikul predikat mahasiswa di sebuah universitas. Tapi saat itu yang dipikirkan Laura hanyalah, ia sungguh-sungguh ingin menjadi ibu yang baik untuk bayi dalam kandungannya, sekaligus istri yang berbakti buat Praz.

“Aku belum siap menikah, Laura,” kata Praz dengan sorot mata tajam menatap Laura.

“Tapi kenapa, Praz? Aku yang akan berkorban! Aku berhenti kuliah, dan kau tetap melanjutkan pendidikanmu,” ucapnya, berusaha menyakinkan Praz.

“Tidak semudah itu, Laura! Bahkan aku belum bekerja.”

“Aku rela hidup apa adanya sampai kamu mendapatkan pekerjaan nanti. Aku ingin kita menemui orang tuaku. Kita harus menerima kemarahan mereka. Yang penting bagiku, bayi ini bisa hidup!”

Praz terdiam. Seakan tak lagi bisa menggoyahkan pendirian Laura, ia berlalu begitu saja dari rasa sedih dan takut yang terpancar dari wajah pucat Laura. Bahkan tak menggubris teriakan Laura yang memanggil namanya.

Daun-daun berguguran seiring air matanya mengalir. Laura bersimpuh di bawah pohon akasia, di taman yang baginya tak berpenghuni…. Sunyi….

Laura membiarkan Praz tak menghubunginya selama beberapa hari. Ia mengira mungkin Praz membutuhkan waktu sendiri, dan memikirkan matang-matang permintaannya. Sampai akhirnya waktu yang ia tunggu tiba, Praz meneleponnya.

“Lusa kita bertemu di kampus, ya,” kata Praz.

Di kampus, Praz menyapa lembut Laura seperti biasa. Seolah tak pernah ada perseteruan di antara mereka berdua sebelumnya. Sikapnya begitu baik dan manis. Praz bahkan berjanji akan menemui orang tua Laura saat ia sudah siap. Entah satu minggu, dua minggu, atau tiga minggu lagi…. Namun karena Praz tak kunjung memberikan Laura kepastian. Akhirnya gadis itu yang tegas memutuskan.

“Kau harus menemui orang tuaku paling lambat sebelum usia kandunganku tiga bulan!”

Di ruang aborsi itu, Laura mencoba memutar ulang memori jangka pendeknya. Ia sadar, selalu menepis firasat buruk yang menyergap saat kemesraan Praz ciptakan akhir-akhir ini. Itu aneh. Alih-alih menganggap Praz akan menikahinya, Laura membuang jauh-jauh pikiran buruk yang kerap mendera batinnya soal Praz. Hingga Praz memberikannya sebotol minuman dalam perjalanan tadi. Minuman yang membuat pandangannya mendadak kabur, gelap, tak sadarkan diri.

Bayangan wajah mungil tak berdosa berkelebat dalam benak Laura saat ia masih pingsan. Tangan mungil melambai kepadanya. Semula seulas senyum tipis ia sunggingkan untuk Laura. Tapi lambat laun wajah-wajah itu berlumuran darah, menyeringai, seakan ingin menerkam Laura. Saat itulah Laura berteriak. Ia merasakan sebuah benda tumpul menghujam perutnya, mengoyak liang peranakannya, berusaha menyapu bersih segumpal daging yang selama ini ia pertahankan. Jerit tangisnya tak menyurutkan tangan-tangan yang memasukkan benda tumpul itu untuk melanjutkan misi mereka.

Semula Laura mengira Praz tiba-tiba masuk ke dalam ruangan untuk menolongnya, menyelamatkan bayi mereka. Tapi ternyata Praz ikut memegangi tangannya agar tidak terus meronta. Praz membantu mereka menghancurkan darah dagingnya sendiri.

“Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya.” Hanya itu kalimat pertama yang meluncur dari bibir Praz.

“Kamu jahat, Praz! Kamu tega bohongin aku, kamu tega sama anak kita. Dan kamu cuma bisa bilang minta maaf?”

“Laura, aku mengerti perasaanmu. Tapi ini untuk kebaikan kita berdua.”

“Cukup, Praz! Aku tidak mau dengar apa-apa lagi.”

Laura membenamkan kepalanya di bawah bantal. Ia mendengar Praz menghela napas panjang. Entah napas lega karena berhasil menjalankan rencananya, atau karena napas penyesalan membuat kisah cintanya dengan Laura dipenuhi lingkaran dosa. Bagi Laura terdengar sama saja….

*****

Hampir dua minggu Laura tak datang ke kampus. Ia abaikan telepon dan pesan singkat dari Praz. Kerjanya hanya mengurung diri di kamar. Melamun, tersenyum sendiri, menangis. Seperti seorang pesakitan. Terkadang ia takut akan menjadi gila. Tak pernah terlintas dalam garis hidupnya bahwa ia akan memiliki sejarah kelam. Hanya erangan lapar kucing di rumah mewahnya, yang sesekali membuat ia tersadar bahwa ia berada di dunia nyata.

Pagi ini Praz datang. Jantung Laura berdegup kencang. Kemarahan itu masih melekat dalam jiwanya. Tak ada lagi cinta yang bisa ia persembahkan untuk Laura. Praz bukan lagi lelaki istimewa dalam hidupnya. Itulah bisikan hati kecilnya.

“Laura, tolong ijinkan aku masuk!” kata Praz, setengah berteriak.

Laura tak menghiraukannya. Ia hanya ingin Praz pergi sejauh mungkin dari hidupnya.

“Laura, please! Aku tidak bisa membiarkanmu kaya gini!” Teriakan Praz semakin kencang.

Laura masih bergeming.

“Laura, aku akan nunggu kamu di luar sampai kamu buka pintu ini!” Suara Praz semakin kencang lagi.

Habis sudah kesabaran Laura. Ia membuka pintu dengan segenap tenaga yang dimiliki.  Praz yang bersandar di pintu nyaris saja terjatuh.

“Apa sih mau kamu? Tolong berhenti mengganggu hidup aku!” teriak Laura, menatap Praz penuh kebencian.

Praz mendorong tubuh Laura, menerobos masuk ke dalam rumah, menutup pintu, menguncinya.

“Laura, sikapmu ini tidak akan mengubah keadaan! Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh menghujat aku, kamu juga boleh nampar atau pukul aku sesuka hati kamu. Tapi aku tidak bisa lihat kamu seperti ini!  Aku juga tidak mau kamu benci sama aku!”

Cih. Laura tersenyum sinis. “Sudah terlambat, Praz! Aku sudah terlanjur sangat benci kamu! Aku sudah kehilangan kewarasanku sejak hari kau bunuh anak kita. Apa pedulimu selain hanya mengedepankan keegoisanmu?”

Praz memandang Laura nanar. Ia sangat menyadari sekujur tubuh Laura telah diselimuti rasa muak yang mendalam kepadanya.

“Laura, aku sungguh menyesal. Andai saja aku tahu kau akan sebegini menghujatku, bahkan mengatakan aku seorang pembunuh, aku tidak akan pernah melakukan hal itu kepadamu. Aku kalut! Aku tidak tahu harus bagaimana. Tapi yang pasti aku sangat mencintaimu.”

Hampir saja Laura luluh dengan semua perkataan Praz itu. Dan menyesali sikapnya yang begitu keras kepada Praz, juga ucapannya. Tapi tiba-tiba relung hatinya meracau lagi. Membawanya pada kesadaran jiwa tentang omong kosong. Cinta tidak begini. Cinta tidak bersuka ria di atas kesalahan. Cinta juga tidak tenggelam di bawah samudera yang berhiaskan limbah. Tidak, Laura tidak mau menyerah!

“Kau sungguh-sungguh mencintaiku?” tanya Laura, tak berkedip menatap bola mata Praz.

“Tentu saja, Laura. Aku sangat mencintaimu. Apa saja yang kamu inginkan mulai saat ini akan aku turuti.”

“Begitu? Kau akan menuruti apa saja yang aku inginkan?”

Praz terdiam sejenak. Dahinya mengerut. “Iya, Laura. Apa saja,” desisnya.

“Kalau kau mencintaiku, aku mohon tinggalkan aku. Aku ingin membuka lembaran baru dalam hidupku.”

Praz terkejut. Matanya membesar. Ia mengira Laura memberikan harapan dan kesempatan, tapi kenyataannya Laura menginginkan perpisahan.

“Ta, Tapi Laura….”

“Tidak ada tapi, Praz! Aku ingin kau pergi dari hidupku! Tenang saja, aku akan merajut hari-hariku seperti biasa. Kuliah, hang out bersama teman, mengunjungi Mami dan Papi. Ya, seperti biasa. Yang tidak biasa adalah aku butuh waktu menerima laki-laki dalam hidupku. Termasuk untuk menerimamu lagi.”

“Apa kamu tidak mau memberikan aku kesempatan, Laura?”

“Memberikanmu kesempatan sama saja membuka kembali kisah terburuk dalam hidupku, Praz. Maaf, aku tidak bisa. Aku ingin mengakhiri semua ini. Mengakhiri jalan gelap yang pernah kita tempuh bersama.”

“Kita bisa memperbaikinya berdua, Laura?!”

“Tidak, Praz. Tolong hargai keputusanku. Kita bisa memperbaikinya meskipun tidak lagi bersama. Kelak jika kamu menemukan gadis baru yang kamu cintai, jangan lagi kau biarkan ada Laura-Laura yang lain. Aku yakin kau mengerti maksudku.”

Praz menjatuhkan tubuh ke atas sofa. Menundukkan kepala. “Baiklah, jika itu maumu, aku juga akan pindah kampus agar hidupmu bisa lebih tenang,” ia menyerah.

“Itu tidak perlu kau lakukan, karena aku sudah memutuskan lebih dulu untuk pindah,” jawab Laura, dingin.

Praz mengangkat kepala. Menatap Laura lekat-lekat. Dari sinar mata kekasihnya itu, ia semakin menyadari bahwa cinta itu telah berganti luka yang tak akan pernah bisa ia obati.

Praz bangkit dari sofa. Memegang kedua lengan Laura sesaat, melepaskannya, lalu ke luar dari rumah dengan langkah gontai. Sebaliknya Laura merasa lega. Setelah Praz pergi, ia siap menyusun rencana baru dalam hidupnya. Laura mendekap tubuhnya sendiri, udara dingin bercampur aroma bunga chamomile dari pengharum ruangan menyapa bulu-bulu halusnya. Menggelitiknya untuk membuat secangkir teh chamomile kiriman dari Mami yang tinggal berbeda kota dengannya. Mami…. Mendadak ia sangat merindukannya. Di sudut matanya, segumpal butiran kristal melebur…. Maafkan Laura Mami….

Sudahkah Anda membaca:

Image by Prawny from Pixabay

-Sintha Rosse-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

Andrew Ballingal: Emas Aset Terbaik saat Kondisi Dunia “Berbahaya”

Intenselynews.com – Andrew Ballingal, penasehat investasi berkata "Emas adalah Aset Terbaik dalam Kondisi Dunia yang ‘Berbahaya’". Harga emas telah mencapai tonggak penting, menguji resistensi...

Inggris Rilis Pedoman Baru AI Guna Atasi Masalah Big Data Lebih Cepat

Intenselynews.com – Artificial Intelligence telah lama dipercaya sebagai alat penting yang dapat digunakan sebagai solusi teknologi untuk menangani beberapa masalah besar yang dihadapi dunia....

India Adakan Festival Fintech Global Secara Virtual Selama Dua Hari

Intenselynews.com – Asosiasi Internet dan Ponsel India (Internet and Mobile Association of India/IAMAI), dan organisasi sejenisnya, Dewan Pembayaran India, (Payments Council of India/PCI) dan...

Kisah Baru Mak Iwa Ini Menggugah Senyum Anda Sejenak!

Intenselynews.com – Wah, tidak terasa bulan Juni telah berlalu. Selamat datang Juli! Di awal bulan ini sudah punya rencana apa saja? Apapun rencananya, semoga...

Platform Digital Berbasis Blockchain Dirilis VeChain di Rumah Sakit Cyprus

Intenselynews.com – Wabah COVID-19 masih menjadi musibah yang mengguncang dunia hingga saat ini. Sehubungan dengan hal itu, berbagai upaya dilakukan banyak pihak untuk menekan...
Translate »