28.4 C
Jakarta

Cerpen Menarik untuk Anda di Bulan Ramadhan, Hidayah-Mu

Intenselynews.com – Mei telah tiba, dan kita masih menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Di awal bulan ini, intenselynews menyajikan cerpen menarik untuk Anda yang bisa Anda baca untuk mengisi waktu luang Anda sambil tetap khusyuk menjalankan ibadah puasa Anda. Yuk, kita baca sama-sama!

Cerpen Menarik, Judul: Hidayah-Mu

Aku terdiam sendiri di pinggir jalan ini, tak menghiraukan rinai rintik hujan yang membasahi tubuhku. Bersama hujan aku mampu menyembunyikan wajahku dari kesedihan. Karena air mataku jatuh seiring dengan bulir-bulir air alamiah yang menampar-nampar halus wajahku, tanpa ada yang tahu aku menangis. Aku tak peduli pandangan aneh orang-orang yang melewatiku. Sementara mereka menyelamatkan diri dari guyuran air hujan, aku malah mematung tak beranjak dari tempatku berdiri.

Perjalanan dari kantorku ke rumah kos hanya berjarak kurang dari 1000 meter. Tapi aku enggan untuk segera pulang. Berdiam diri di dalam kamar akan semakin membuatku merasa kesepian, menguak luka di dalam hatiku karena mencintaimu. Aku memutuskan untuk pulang berjalan kaki pelan-pelan. Di bawah rinai rintik hujan, hati dan pikiranku melayang….

Menggapai hatimu ternyata tak semudah khayalku. Pun mencoba melupakanmu semakin menyiksa batinku. Bayangan wajahmu selalu hadir dalam setiap mimpiku. Membuat jiwaku semakin terpuruk menginginkan kau berada di sisiku.

 

Sore tadi selepas jam kantor usai….

Aku melihatnya berjalan sendiri menuju lift. Tak akan aku menyia-nyiakan kesempatan ini. Pikirku. Aku mencoba berjalan cepat mengejarnya. Rok miniku yang cukup ketat, membuatku agak sulit bergerak bebas. Tapi aku memaksakan diri untuk berjalan lebih cepat lagi, sampai-sampai aku hampir tersungkur ketika telah sampai di hadapannya. Wajahku memerah menahan malu. Laki-laki yang bernama Fadli itu mengerutkan keningnya. Ia teman sekantorku. Pria alim yang telah mencuri hatiku.

“Dara, ada apa?” tanyanya.

Aku membetulkan rok miniku yang sedikit tersingkap. “Mmmm, maaf, Mas Fadli. Apa sore ini Mas ada waktu?” jawabku kemudian.

“Iya, ada yang bisa aku bantu?”

“Oh, ti, tidak. Tapi ada yang ingin aku bicarakan.”

“Baik, bicara saja.” Ia tersenyum lembut.

“Tapi tidak di sini, Mas.”

Mas Fadli kembali mengerutkan keningnya. Sorot matanya seakan bertanya apa yang hendak ingin aku sampaikan. “Memangnya kenapa kalau di sini? Begitu rahasiakah hal yang ingin kamu bicarakan?”

“I, iya, Mas. Saya ingin bicara sama Mas Fadli sambil makan malam. Itu juga kalau Mas tidak keberatan.”

Dia melirik sejenak jam tangannya. “Ya sudah kalau begitu. Kita makan di restoran padang di samping kantor saja, ya. Menghemat waktu takut macet.”

“Baik, Mas. Di situ saja juga tidak apa-apa.”

Tepat setelah aku menyelesaikan kalimat terakhirku, pintu lift terbuka. Aku dan Mas Fadli masuk ke dalamnya. Sunyi. Hanya terdengar suara napas yang menggaung, turun naik teratur. Sebisa mungkin aku menutupi kegelisahanku, menerka-nerka reaksi Mas Fadli nanti setelah mendengar pengakuanku….

 

Denting suara sendok garpu yang bercengkerama dengan piring, tak mampu menetralkan perasaanku saat aku dan Mas Fadli duduk saling berhadapan. Pertama kalinya aku dan dia duduk sedekat ini. Biasanya kami hanya makan bersama ketika ada acara kantor dengan teman-teman. Bibirku terasa kelu untuk bicara. Degup jantungku berdetak kian cepat.

“Tadi kamu mau bicara apa?”

Suara beratnya membuyarkan lamunanku. Aku memandangi wajahnya sesaat, lalu menunduk seraya berkata, “Mas, aku, aku….” Rasanya sulit sekali mengungkapkannya. Aku menarik napas panjang.

“Kamu ada masalah apa?” Mas Fadli mengernyitkan keningnya.

“Mas, aku mencintaimu.” Akhirnya, meluncurlah kalimat itu. Aku menunduk. Tak berani menatapnya.

Seketika itu juga Mas Fadli meletakkan sendok garpunya. “Hanya itu yang mau kamu bicarakan?”

Aku menganggukkan kepala pelan, lalu memberanikan diri menatapnya.

“Maafkan aku mengganggu waktumu, Mas.”

“Bukan itu maksudku. Aku tak menyangka kau mengutarakan hal itu.”

“Aku sudah tak kuat lagi menyimpannya sendiri.”

“Aku mengerti. Tapi maafkan aku. Aku tidak mencintaimu.”

Dia bangkit dari kursinya. Berlalu begitu saja dari hadapanku. Air mataku tumpah seketika. Malu dan menyesal bercampur menjadi satu. Seharusnya sejak awal aku tahu diri. Tak mungkin aku mampu meluluhkan hatinya.

Tin, tiiiin, tiiiin. “Hei, bosan hidup, ya?!”

Tiba-tiba suara keras berteriak ke arahku. Aku baru menyadari, ternyata lamunan membawa langkahku hampir ke tengah jalan. Sopir angkutan umum yang tadi berteriak, memandangku kesal. Lekas-lekas aku minggir sambil meminta maaf kepadanya. Pandanganku beralih dari angkot yang melaju kencang itu ke sebuah rumah kos di pinggir jalan. Tak terasa aku sudah sampai….

*****

Setelah kejadian malam itu, aku berusaha menghindari Mas Fadli. Bahkan aku berencana resign dari kantor. Setiap kali melihat wajahnya, setiap kali itu pula aku teringat kembali sikapnya yang dingin malam itu. Membuat rasa malu dan luka hatiku sulit terobati.

Pagi ini aku sengaja datang lebih awal ke kantor. Akhir bulan hanya tersisa dua  minggu lagi. Aku harus segera menyelesaikan semua hal yang berhubungan dengan pekerjaanku agar pengunduran diriku tidak bertele-tele.

Kantor masih sangat lengang. Keningku mengerut. Aku mendapati sebuah buku masih bersegel tergeletak di atas meja kerjaku. Mataku berkeliling ke seluruh ruangan, belum ada siapa-siapa di kantor selain aku.

Saat aku mengangkat buku itu, ada secarik kertas di bawahnya bertuliskan: Bacalah!. Tak ada nama pemberinya di kertas itu. Aku membolak-balikan buku itu di tanganku. Gelisah dan penuh tanda tanya. Fiuh, lagi patah hati begini baca buku…. Apa yang bisa dicerna? racau batinku.

Kuletakkan kembali buku itu, berusaha tak memedulikan keberadaannya, menyalakan komputer, mulai bekerja. Tapi baru beberapa menit saja aku bertahan, mataku kembali melirik buku itu. Terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengela napas panjang, lalu kembali mengambilnya. Aku membaca sinopsisnya. Buku itu mengupas tentang seluk beluk wanita muslimah. Lambat laun hatiku penasaran. Akhirnya aku membacanya juga….

*****

Satu minggu berlalu.

Hari ini aku mengenakan rok sebatas betis dipadukan blouse lengan panjang ke kantor. Beberapa teman memandangku aneh sekaligus takjub.

“Dar, rok mininya ke mana? Terbang?” goda Elisa, teman kantorku.

“Dikiloin di tukang loak,” sahutku sekenanya sambil tersenyum lebar.

Entah datang dari arah mana, tiba-tiba Mas Fadli telah berdiri di samping kursiku.

“Dar, bos minta laporan mengenai hasil penjualan tim pemasaran. Tolong bantu, ya!” ucapnya.

Eh, iya. Baik, Mas!” jawabku, agak kikuk.

Sebelum benar-benar berlalu dari hadapanku, Mas Fadli membalikkan badannya ke arahku. “Oh ya, Dar. Kamu anggun berpakaian seperti itu.” Pujinya, tersenyum penuh arti.

Senyum tipis tersungging di bibirku. Aku memandanginya sampai ia hilang dari penglihatanku.

Elisa menyikut pinggangku, aku tersipu malu….

“Jadi mengundurkan diri?” tanya Elisa.

“Aku masih pikir-pikir lagi. Rasanya kok lemah banget resign karena patah hati. Apalagi cari kerjaan jaman sekarang susah. Seharusnya aku bersyukur, menikmati yang sudah Allah kasih buat aku.”

Mata Elisa melotot. “Dar, kamu salah minum obat, ya? Sejak kapan kamu jadi super bijaksana seperti ini? Pakai ingat aturan bersyukur juga lagi, ck ck ck ck,” Elisa menggeleng-gelengkan kepala.

Aku tersenyum jenaka sambil mengangkat bahu dan kedua alisku. Sejak aku membaca buku dari orang misterius, yang tak pernah aku tahu siapa dia sampai sekarang. Tapi entah kenapa, perasaanku mengatakan buku itu dari orang yang sangat berarti dalam hidupku. Batinku berucap.

 

Aku melirik jam tangan. Sudah jam 12.00. Rasanya baru saja aku duduk di meja kerjaku…. Waktu berjalan begitu cepat…. Pikirku.

“El, sebelum istirahat sholat Dzuhur dulu, yuk! Biar tenang makannya,” kataku pada Elisa yang masih tampak serius mengotak-ngatik komputernya.

Mata Elisa membesar. “Hah, apa aku tidak salah dengar? Sekarang kamu ingat sholat juga?”

“Iya, terus kenapa?!” jawabku, agak ketus. “Aku duluan, ya! Takut waktunya keburu habis.” Aku melenggang pergi meninggalkan Elisa yang melongo memandangiku.

*****

Adzan Maghrib berkumandang ketika aku masih perjalanan pulang. Terdengar dari sebuah masjid yang aku lewati, “Allahhuakbar-Allahhuakbar, Asyhadu an la ilaha ilallah, Asyhadu an la ilaha ilallah, Asyhadu anna Muhammadarrasulullah, Asyhadu anna Muhammadarrasulullah.”

Deg. Jantungku berdegup kencang. Sesaat waktu seolah berhenti berputar. Aku hanyut oleh alunan merdu suara adzan yang begitu menggetarkan kalbuku. Kakiku lantas melangkah menuju ke masjid itu. Hatiku mengajakku untuk shalat terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

Alhamdulillah, gumamku. Setelah shalat hatiku terasa lebih ringan. Namun, aku masih enggan beranjak dari masjid. Hilir mudik perempuan-perempuan berkerudung mengusik hatiku. Mataku tidak henti memperhatikan gerak-gerik mereka. Tampak anggun, santun, indah, sekaligus terlindungi.

Aku teringat dulu ketika masih sering mengenakan pakaian serba minim. Banyak kaum adam begitu terpukau memandangi tubuhku, seakan aku santapan lezat yang ingin mereka terkam. Aku jadi malu. Kenapa baru sekarang aku menyadari betapa tubuhku begitu berharga? Mataku berkaca-kaca….

“Ya Allah, apakah ini hidayah dari-Mu?” ucapku pada diri sendiri.

Aku terus terpukau memandangi perempuan-perempuan berhijab itu. Hingga dentang jam dinding masjid menyadarkanku, waktu menunjukkan pukul 19.00. Aku memutuskan untuk pulang….

“Dara!”

Tiba-tiba ada yang menyapaku saat aku tengah memakai sepatu di tangga masjid. Agak terkejut aku melihat sosok itu. “Mas Fadli?!” seruku.

“Tak usah kaget begitu. Aku sejak tadi sudah melihatmu masuk ke masjid ini. Biasanya sebelum pulang kantor, aku juga sholat di sini dulu. Dan sekarang aku sengaja menunggumu.”

“Menungguku?”

“Iya, boleh aku antar kamu pulang?”

“Oh, tapi apa tidak merepotkan, Mas?”

“Tidak repot, kok. Kebetulan saja, hitung-hitung aku menghindari macet. Jadi pulang lebih malam tidak masalah.”

Aku berpikir sesaat, sebagian diriku agak sungkan, tapi haruskah aku menolak?

“Dara?”

“Oh, oke, oke, Mas. Thanks before, aku jadi hemat waktu juga buat jalan kaki,” jawabku, spontan.

Mas Fadli tersenyum lebar, kami berjalan beriringan menuju tempat parkir mobil.

 

Saat di mobil, mataku sibuk mengamati gerak semu pemandangan di sepanjang jalan. Sementara Mas Fadli menyetir kendaraannya dengan serius.

Aku bingung harus memulai pembicaraan apa, sampai akhirnya Mas Fadli yang membuka percakapan. Ia bercerita seputar urusan kantor, pengalaman lucu tim pemasaran, dan seputar pengalamannya dalam bekerja. Sesekali matanya beradu pandang denganku, yang membuat hatiku…. Masih saja bergetar…..

Aku menanggapinya dengan sesekali berucap, “Oh, ya,” “Oh, begitu,” “Seru banget.” Dan aku hanya bercerita ketika ditanya. Seperti saat ia menanyakan di mana saja aku pernah bekerja. Sebetulnya ingin sekali aku cepat sampai di kos karena perasaan yang masih melekat di hatiku terhadapnya.

Diam-diam aku bernapas lega ketika rumah kosku mulai tampak. Karena artinya akhirnya aku bisa segera mengakhiri kebersamaanku dengannya.

“Itu rumah kosku,” tanganku menunjuk ke salah satu rumah di pinggir jalan.

“Oh, dekat juga, ya,” ucapnya.

Mas Fadli menghentikan mobilnya persis di depan pagar rumah kosku.

“Terima kasih ya, Mas!”

 Baru saja aku ingin membuka pintu mobil, Mas Fadli mencegahku.

“Sebentar,” katanya.

Ia turun dari mobil, berjalan ke sisi tempat aku duduk, membukakan pintu mobil untukku. Sikapnya membuatku tersanjung. Tapi aku tidak ingin terlena. Pikirku, mungkin dia hanya ingin berlaku sopan kepadaku….

“Dara, besok ada waktu sepulang kerja?”

Pulang kerja? Tumben. Ada keperluan apa?

“Hmmm, besok aku tidak ada jadwal lembur. Ada yang bisa aku bantu?”

“Oh, ini bukan soal kerjaan. Aku mau mengajakmu makan malam.”

Srrr. Darahku berdesir. Mas Fadli mengajakku makan malam? Tapi untuk apa? Sebisa mungkin aku menyembunyikan rasa senang sekaligus bimbang dengan ajakannya.

“Baik, Mas! Insya Allah, aku usahakan besok bisa.”

Kami saling bertukar senyum.

“Ya sudah, aku pulang dulu, Dar.  Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumsalam.”

Deru mobil Mas Fadli yang melaju, mengecil, terus menghilang dari pandanganku, menyisakan tanda tanya dalam benakku. Ada angin apa dia mengajakku makan malam? Aku menatap langit malam yang saat itu bak permadani bertabur emas permata. Senyumku merekah.

Setelah menunaikan sholat Isya, mataku menatap langit-langit kamar. Banyak pikiran berkecamuk menjadi satu ke dalam benakku mengingat setiap kejadian hari ini. Tentang perasaan syahduku ketika mendengar suara adzan, kekagumanku kepada perempuan-perempuan berkerudung, juga sikap Mas Fadli yang mendadak sangat baik kepadaku.

Tiba-tiba aku teringat sebuah nasihat di buku itu. Tertulis agar bertahajud untuk menghilangkan segala kegalauan di dalam jiwa, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT.

Aku bangkit dari sajadah, memasang alarm di ponselku, jam 02.00….

*****

Esok harinya aku berangkat ke kantor dengan langkah ringan. Tahajud semalam menorehkan makna terdalam keputusan baru di hidupku mulai hari ini.

Masya Allah! Dar, kamu cantik banget. Ini beneran kamu?” Elisa memandangiku dari atas hingga ke bawah.

“Iya dong, Elisa. Memangnya aku setannya Dara?” selorohku.

“Bu Dara, cantik banget pakai kerudung. Pangling saya, Bu!” ucap salah seorang office boy seraya meletakkan gelas minum di atas meja kerjaku.

Alhamdulillah, terima kasih, Bang Opik!”

Dari sudut ruang kantor, tampak dari layar monitor komputerku, aku melihat sesosok bayangan menatapku begitu lembut. Fadli. Aku lantas menengok ke sudut sosok itu berada, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Kupikir, itu hanya halusinasiku saja….

 

Di restoran padang yang sama, dengan kursi yang sama tempat kenangan pahitku bersamanya. Entah kenapa dia mengajakku makan malam di tempat itu lagi…. Sikapku yang gelisah sulit aku sembunyikan….

“Dara, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Maaf jika harus di tempat yang sama,” ucap Mas Fadli seakan membaca pikiranku.

“Memang apa yang Mas ingin bicarakan?”

“Dara, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sakit hati dan merasa dicampakkan waktu itu.”

Aku tertegun mendengarnya. “Mas, tidak perlu merasa bersalah. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Jodoh sudah ada yang mengatur.”

“Tapi sekarang aku ingin menghapus semua ingatan burukmu tentang malam itu, menghapus semua sakit hatimu.”

Aku terperangah.

Senyum tipis tersungging di bibirnya. Tatapan matanya begitu hangat.

“Dara, ada satu hal yang ingin aku utarakan kepadamu.”

Aku masih tak mampu berucap, selain menatap erat-erat kedua bola matanya dengan pikiran bertanya-tanya. Apa maksud semua ini?

“Dara, maukah kamu menjadi istriku?”

Masya Allah, gumamku. Kami saling beradu pandang. Tak berkedip. Aku mencari keseriusan dalam bola matanya yang teduh. Bunyi sendok jatuh membuat kami tersadar.

“Mas, apa kamu sungguh-sungguh?”

“Dara, kalimat seperti itu bukan untuk permainan!” tegasnya.

“Maaf, Mas. Aku hanya tak menyangka Mas akan berucap demikian. Saat itu Mas bilang tidak mencintai aku.”

 “Dara, aku mencintaimu karena Allah! Aku ingin menikah karena Allah! Aku tak ingin pacaran. Sekarang aku yakin Insya Allah akan jadi imam yang baik untukmu. Apakah kamu mau menerimaku menjadi pendamping hidupmu?”

Air mata bahagia tidak sanggup aku sembunyikan. Jatuh perlahan membasahi pipiku. Sesaat aku menundukkan kepala, lalu mengangkat wajah lagi. Kulihat wajah Mas Fadli menunggu jawabanku penuh harap. Lalu, “Iya, Mas Fadli. Aku bersedia,” aku mengangguk.

Alhamdulillah,” ucapnya.

Adzan Isya berkumandang seiring dengan doaku yang mengalir di dalam batinku. Ya Allah, sujud syukurku atas hidayah dan karunia-Mu….

Baca:

Apakah Anda punya cerpen menarik yang ingin diterbitkan oleh intenselynews? Jangan ragu kirim karya tulis Anda ke [email protected]. Selamat berkarya!

-Sintha Rosse-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

Kompetisi Trading Aset Kripto Diluncurkan bitFlyer dan Quazard

Intenselynews.com – Luxembourg – bitFlyer, perusahaan cryptocurrency exchange dikabarkan bermitra dengan Quazard, pengembang game crypto-trading. Kemitraan itu untuk membawa kompetisi trading aset kripto terverifikasi...

Pengusaha Properti Paling Sukses dan Terkaya di Dunia

Intenselynews.com – Bukan rahasia lagi jika properti adalah salah satu industri yang paling menjanjikan di dunia. Pertumbuhannya juga meningkat pesat sepanjang tahun. Tak heran...

Buka Usaha E-Commerce Baru? Beberapa Hal Ini Penting Diketahui!

Intenselynews.com – Sebagai pemula di dunia bisnis e-commerce, berbagai kisah sukses para pengusaha yang lebih dulu terjun ke industri tersebut mungkin membuat Anda berpikir...

Amazon Patenkan Sistem Blockchain untuk Pelacakan Rantai Pasokan

Intenselynews.com – Tertanggal 26 Mei lalu perusahaan e-commerce terkemuka dunia, Amazon, mengajukan paten untuk sistem Blockchain pelacakan barang mereka di rantai pasokan. Amazon patenkan...

Pemerintah Venezuela Tuntut Inggris atas Emas Mereka

Intenselynews.com – Seperti yang kita ketahui, pemerintah Venezuela mengalami krisis ekonomi berkepanjangan selama beberapa tahun ke belakang. Negara tersebut mengalami penurunan nilai mata uang...
Translate »