Kejahatan Picture
Top Advertisement

Intenselynews.com – Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, memperingatkan pada Selasa (24 Maret) bahwa kejahatan dunia maya di Uni Eropa telah meningkat karena wabah COVID-19. Kejahatanvdunia maya mengambil keuntungan dari meningkatnya jumlah waktu yang dihabiskan orang secara online karena langkah-langkah baru yang diambil oleh negara-negara anggota untuk menghentikan penyebaran virus – sementara mereka juga mendapat manfaat dari krisis kesehatan itu sendiri.

“Mereka mengikuti kami secara online dan mengeksploitasi kekhawatiran kami tentang virus corona. Ketakutan kami menjadi peluang bisnis mereka,” kata von der Leyen dalam sebuah pesan video. Salah satu kejahatan yang marak adalah adanya penjual yang mengaku memiliki obat COVID-19 padahal obat tersebut tidak ada alias palsu.

Sementara itu, komisaris pasar internal Thierry Breton sedang berkonsultasi dengan operator telekomunikasi bagaimana melindungi jaringan UE dari serangan siber.

Namun, menurut laporan baru, upaya peretasan terhadap sistem komputer WHO sendiri dan mitranya telah meningkat selama wabah COVID-19.

Meskipun tujuan dari serangan ini tidak jelas, orang mungkin menganggap banyak motif untuk menyerang organisasi kesehatan terkemuka itu selama pandemi ini.

Misalnya, penjahat dunia maya dapat mencari informasi tentang penyembuhan, tes atau vaksin yang berkaitan dengan COVID-19 untuk dijual di pasar gelap, mengenkripsi data sensitif dan menahannya untuk tebusan, atau hanya mengganggu operabilitas lembaga.

Situasi yang Berisiko untuk Pasien

Demikian juga, rumah sakit dan pusat kesehatan di seluruh Eropa juga menjadi sasaran penyerang dunia maya saat mereka berperang melawan virus Corona.

Namun, sebagian besar serangan ini adalah ransomware. Pelaku kriminal dunia maya di balik ini akan mengenkripsi sejumlah besar data rumah sakit untuk kemudian menuntut tebusan besar jika pihak rumah sakit ingin memulihkannya.

Menurut Costin Raiu, kepala penelitian dan analisis global di Kaspersky, serangan destruktif atau ransomware terhadap rumah sakit atau organisasi kesehatan lainnya bisa sangat berbahaya karena menempatkan pasien dalam risiko.

“Dalam kasus ekstrem, ini dapat mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, baik karena sumber daya yang diperlukan untuk merawat mereka tidak lagi tersedia atau proses pengobatan di rumah sakit sangat melambat,” kata Raiu, menambahkan bahwa penting bagi rumah sakit untuk dilindungi dan untuk melindungi data pasien mereka.

Baca juga:

Untuk mengatasi masalah ini, rumah sakit dan berbagai lembaga terbaik harus bisa saling bersinergi. Dengan begitu kejahatan dunia maya ini tidak semakin memperparah kondisi pandemi yang sudah parah ini.

Image by Gerd Altmann from Pixabay

-Dita Safitri-

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here