Pencuri Jambu picture
Top Advertisement

Intenselynews.comPencuri Jambu. Beni dan Dhika selalu berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Keduanya berjalan kaki.

Setiap kali melewati sebuah rumah, air liur mereka menetes. Karena di halaman rumah itu ada pohon jambu yang sedang berbuah lebat. Buah jambu yang menjuntai-juntai itu tampak ranum. Menggugah selera.

Beni berhenti sejenak memandangi jambu-jambu itu. Dhika ikut berhenti. Terbersit rencana di dalam benak Beni. Matanya berkeliling melihat suasana sepi di gang rumah itu. Wajah Dhika bingung dengan sikap Beni. Kebingungan Dhika terjawab ketika Beni mengutarakan niatnya.

Dhika terkejut, matanya membesar. Ia mencegah Beni melakukan niat buruknya itu. Dhika juga mengingatkan Beni pesan guru mengaji mereka. Mencuri itu perbuatan tidak terpuji, dan berdosa. Orang yang berdosa akan masuk neraka. Namun Beni tak ingin mengurungkan niatnya.

Beni mengancam Dhika akan memutuskan tali persahabatan mereka jika Dhika tak mau ikut membantunya mencuri buah jambu itu. Dhika tertegun. Ia bimbang harus memilih antara persahabatan dengan bersikap benar. Meski hati kecilnya tak ingin mencuri, akhirnya Dhika memilih untuk mempertahankan persahabatannya.

Mereka berencana akan melancarkan aksinya esok siang sepulang sekolah. Beni menugaskan Dhika membawa kantung plastik. Ia sendiri akan membawa galah kecil.

“Besok kita pesta jambu, sobat,” ujar Beni sambil merangkul bahu Dhika.  Sepanjang perjalanan ke rumah, Dhika menundukkan kepalanya.

*****

Malamnya, Dhika merenung di dalam kamarnya. Sebetulnya ia ingin sekali tak menuruti keinginan Beni. Ia menyesal, dan tak seharusnya membiarkan Beni mencuri jambu-jambu itu besok. Dengan alasan menjaga persahabatan, membantu sahabat mencuri itu tetap saja tidak benar. Tetapi ia tidak tahu harus bagaimana. Ia terlanjur mengiyakan keinginan Beni. Satu sisi lagi pesan guru agamanya teringang-ngiang di telinganya.

Dhika berharap besok ia bisa menggagalkan pencurian itu. Tiba-tiba ide cemerlang muncul. Ia bertekad akan mendatangi rumah pemilik pohon buah jambu itu. Malam ini juga.

*****

Pak Gunawan, nama pemiliknya. Sesampainya di rumah Pak Gunawan, Dhika memperkenalkan dirinya dengan santun. Ia menceritakan maksud kedatangannya. Tentang rencana pencurian yang akan dilakukan Beni, hingga ancaman persahabatannya akan hancur jika Dhika tak mau menuruti Beni. Pak Gunawan manggut-manggut.

“Kamu anak yang baik hati, Dhika. Jangan khawatir, Bapak akan melakukan sesuatu agar Beni jera. Besok kamu tetap ikuti saja keinginan Beni itu,” kata Pak Gunawan.

“Tetapi, Pak, Dhika mohon jangan sampai Beni diteriaki maling ya, Pak. Beni sebetulnya sahabatku yang baik. Dhika juga tidak mau Beni kecewa jika mengetahui Dhika mengadukan ini sama Bapak,” kata Dhika

Pak Gunawan tertawa terbahak-bahak.

“Tentu saja Bapak tidak akan melakukan hal itu, Dhika. Kamu tenang saja. Bapak jamin persahabatan kalian akan tetap terjaga. Sekarang pulanglah, Nak. Hari semakin malam, hati-hati, ya.”

“Terima kasih banyak, Pak!” ucap Dhika sambil tersenyum.

*****

Beni begitu antusias ingin segera menikmati jambu-jambu segar itu. Siang yang terik tak menjadi penghalang baginya melaksanakan niatnya. Ia menengok ke kiri ke kanan. Seperti biasa jalanan di gang itu sepi. Tapi Beni meminta Dhika tetap waspada mengawasi jalanan, sementara ia akan menyolok-nyolok pohon jambu itu agar buahnya berjatuhan. Ada yang berbeda hari ini, hampir semua buah jambu itu telah terbungkus plastik hitam. Disodok-sodoknya tangkai yang digelayuti plastik itu, tapi anehnya tak ada satu pun buah jambu yang terjatuh.

Dhika tak berkedip memandangi pohon jambu itu. Apa yang telah dilakukan oleh Pak Gunawan? Tanyanya dalam hati. Karena tak sabar, akhirnya Beni loncat berusaha menggapai tangkai pohon yang paling rendah. up, kena! Tapi sayang, ikatan plastik itu melorot dari tangkainya, air kotor mengguyur tubuh Beni. Spontan Beni berteriak. Dhika melongo.

Seiring dengan suara teriakan Beni, keluarlah seseorang dari dalam rumah itu, Pak Gunawan. Tubuh Beni mendadak gemetar. Ia takut dimarahi. Suasana mendadak hening. Mereka hanya saling bertatapan. Tiba-tiba…. Pak Gunawan tertawa terbahak-bahak.

“Masih ingin mencuri buah jambu itu?” tanyanya masih terus tertawa.

Meski dalam hatinya tak tega melihat Beni basah kuyup, diam-diam Dhika tersenyum simpul. Ia menahan geli.

 “Sa, saya minta maaf, Pak!” jawab Beni. Terbata-bata.

Pak Gunawan menghampiri Beni dan Dhika.

“Nak, mencuri itu perilaku buruk. Jika kalian menginginkannya kalian bisa meminta ijin dulu kepada pemiliknya,” kata Pak Gunawan.

“I, iya, Pak. Teman saya tidak bersalah, Pak. Saya yang membujuknya. Kalau Bapak mau memberikan hukuman, hukum saya saja, Pak,” ucap Beni.

Dhika terharu mendengarnya. Ia mengusap-usap bahu Beni.

Pak Gunawan menghela napas panjang.

“Siang ini tak ada hukuman untuk kalian. Tapi ingat, jangan pernah ulangi lagi, ya!”

Beni dan Dhika menganggukkan kepalanya, “Terima kasih, Pak!” jawab keduanya, serentak.

“Nah, sebagai ganti hukumannya, kalian bantu Bapak melepaskan semua plastik hitam yang Bapak kaitkan di tangkai pohon jambu itu. Hati-hati jangan sampai ada yang tersiram lagi air kotor di dalamnya, ya. Setelah itu, kalian Bapak kasih hadiah jambu-jambu segar yang sudah Bapak petik tadi sebelum kalian ke sini,” ujarnya.

Mata Beni dan Dhika berbinar. Ternyata Pak Gunawan pemilik pohon jambu ini adalah orang yang baik hati.

-Pencuri Jambu, Sintha Rosse, Kompas Anak-

5 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here