27.9 C
Jakarta

Syarat untuk Mencintaiku, Kumcer Cinta Perempuan Pustaka Mandiri

Intenselynews.com – Cerita pendek (cerpen) “Syarat untuk Mencintaiku” adalah salah satu judul cerpen yang ada di buku kumpulan cerpen Cinta Perempuan, yang diterbitkan oleh Pustaka Mandiri. Yuk, kita simak jalan ceritanya!

Cerpen Syarat untuk Mencintaiku

Assalamu’alaikum bidadari surga.

Subhanallah,

hari ini kau tampak begitu menawan.

Riang senyummu merekahkan bunga-bunga di taman.

Kerudungmu melambai-lambai tertiup angin.

Indah parasmu semakin memesona ruang hatiku.

Mungkinkah kau bidadari surga yang turun ke bumi untukku?

Farhan

Aida melipat surat yang baru saja dibacanya. “Dia lagi,” gumamnya. Surat itu adalah surat yang kesekian kalinya dari Farhan. Meskipun Aida tak pernah membalasnya, pria itu tetap saja rajin melayangkan surat untuknya. Ada saja cara Farhan mengirimkannya. Menyelipkannya di dalam laci meja Aida di kelas, meminta bantuan adik kelas untuk memberikannya kepada Aida, bahkan ia pernah langsung mengirimkannya ke alamat rumah Aida melalui pos.

Farhan adalah kakak kelas Aida yang setingkat lebih tua darinya. Mereka bersekolah di Madrasah Aliyah (MA) yang sama. Anehnya setiap kali berpapasan, Farhan tidak pernah berani menegur Aida terlebih dulu. Mereka hanya beradu pandang sesaat, selang kemudian menundukkan wajah, mengucap istighfar bersamaan, lalu lekas-lekas berlalu dari hadapan masing-masing.

“Surat dari Farhan lagi, ya?” Nirma sahabat Aida menepuk bahunya.

Keduanya bertukar senyum. Aida mengangkat alis sambil menganggukkan kepala. Ia memasukkan surat itu ke dalam tasnya.

“Yuk ah, pulang! Mamaku pasti sudah menunggu di rumah.”

Nirma mengikuti langkah Aida. Mereka berjalan beriringan.

“Aida, kenapa tak kamu coba balas saja surat dari Farhan?”

“Hmmm, akan ada saatnya aku membalas surat itu,” jawab Aida sambal tersenyum penuh arti.

Dari balik gerbang sekolah, sorot mata Farhan tak lepas dari langkah Aida yang semakin menjauh, tinggal setitik, sampai menghilang….

*****

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah, putri kecil Mama sudah pulang.”

“Mama, Aida sudah sekolah tingkat atas, bukan anak kecil lagi!” Aida pura-pura cemberut sambil mencium tangan mamanya.

Mama tersenyum lebar mengusap kepala Aida. “Bersegera shalat dzuhur, Nak! Lalu makan siang ya, sayang.”

“Iya, Ma!”

Aida menaiki anak tangga menuju ke kamar. Untuk pertama kalinya ia masih memikirkan surat-surat dari Farhan. Isi surat-surat itu lambat laun membuat Aida seolah terbang ke angkasa raya. Hal itu cukup membuat Aida resah.

Kesejukan percikan air wudhu agak mengobati kegelisahan Aida. Shalat dzuhur ia laksanakan dengan khusyuk. Berusaha keras ia mencoba mengusir kepongahan hatinya karena pujian Farhan yang berlebihan atas dirinya.

“Ya, Rabb, jangan kau biarkan hati ini terjatuh, ke dalam cinta yang membutakan ruhku dari mengingat-Mu, menjauhkan batinku dari rasa rendah hati. Hanya Engkau-lah yang Maha Sempurna. Dan sebaik-baiknya cinta adalah cinta kepada-Mu.

Selepas doa itu mengalir, hati Aida lebih tenang. Ia melipat mukenanya, memenuhi seruan mamanya untuk makan siang.

“Mama, jatuh cinta itu apa, sih?” tanya Aida di sela-sela kesibukan mulutnya mengunyah makanan.

Bola mata Mama berbinar mendengar putrinya telah berani menanyakan soal cinta kepadanya.

“Aida sayang, cinta adalah kesucian. Dan untuk menjaga kesucian cinta, segala bentuk pengorbanan akan rela dilakukan. Termasuk menjaga diri dari fitnah yang mengatas namakan cinta. Cinta itu harus semata-mata karena Allah.”

Aida terkesima. Sehebat itukah definisi cinta? Batinnya.

“Apakah kagum sama dengan cinta, Ma?”

“Tentu saja beda, sayang. Kagum hanya sebatas pada pujian semata karena kelebihan seseorang. Sementara cinta hadir tanpa menuntut kesempurnaan.”

Aida menarik napas panjang. Apakah jawaban Mama berarti Farhan hanya mengaguminya, tapi tidak mencintainya?

“Oh, begitu ya, Ma?!” Aida berusaha menyembunyikan galau di wajahnya.

“Kenapa tiba-tiba Aida bertanya soal ini? Jangan-jangan anak Mama sudah ada yang naksir, ya?” goda Mama dengan raut wajah jenaka.

“Ih, Mama. Tidak, kok!” Aida tersipu malu, lantas menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

Mama tertawa ringan melihat sikap putri semata wayangnya mendadak salah tingkah.

*****

Aida menelungkupkan kepalanya di atas bantal. Pikirannya menerawang. Dibacanya ulang surat yang ia terima siang tadi ketika hendak pulang dari sekolah. Seorang anak kecil menyodorkan surat itu kepadanya. Anak itu menunjuk ke seberang jalan, tempat Farhan berpijak. Ada yang berbeda dari biasanya, Farhan telah berani melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum.

Aida menundukkan kepalanya sambil menerima surat itu, lantas berjalan kembali.

Assalamu’alaikum Aida,

Alhamdulillah,

Syukurku masih diberikan kesempatan oleh Allah.

Merangkai kata mengutarakan isi hatiku.

Engkaulah wanita impian setiap jiwa,

mungkinkah jika aku mencintaimu?

Mohon jawablah aku. Semoga aku pangeran impianmu.

Farhan

Kalimat terakhir dalam surat itu menggalaukan hati Aida. Kali ini ia ingin membalasnya. Tapi belum satu kalimat pun tersusun di atas kertas putih yang sejak setengah jam lalu ia persiapkan. Aida menghela napas panjang. Ia paksakan hatinya mengeluarkan segenap keberanian, menuliskan sederet kata yang muncul di benaknya. Tangannya mulai menari-nari di atas kertas putih itu.

Wa’alaikumsalam,

Kak Farhan yang dikasihi Allah.

Apakah arti cinta menurut Kak Farhan?

Aida

Hanya tiga kalimat itu yang mampu ia tuliskan. Aida bangkit dari ranjangnya, mematikan lampu, membanting tubuh ke atas ranjang. Meski benaknya masih disibukkan dengan jawaban apa yang akan Farhan utarakan untuknya tentang definisi cinta, ia berusaha memejamkan matanya untuk menyongsong hari esok.

****

Pagi ini Aida terburu-buru pamit kepada mamanya untuk berangkat ke sekolah. Ia berniat akan meminta bantuan Nirma menyampaikan surat yang semalam ia tuliskan untuk Farhan, sebelum bel tanda masuk kelas berbunyi.

“Wow, amazing! Akhirnya luluh juga nih hati kamu?!” seru Nirma.

Ssst! Please, tolong berikan saja suratnya. Isinya bukan apa-apa, kok.”

“Maksudnya? Kamu nolak Farhan?”

“Enggak, bukan gitu. Aku cuma….Ya, pokoknya tolong berikan saja deh ke Farhan, ya,” Aida memelas.

“Hmmm, baiklah kalau begitu.” Nirma melihat wajah Aida memerah. Ia maklum jika Aida tak mau berterus terang kepadanya.

*****

Satu minggu berlalu setelah surat Aida sampai ke tangan Farhan. Tak jua Aida menerima jawaban dari pertanyaannya di surat itu.

Aida mengira Farhan telah berhenti menjadi pengagumnya, dan tidak mencintainya.

Hari ini agenda sekolah pulang lebih awal. Karena para guru mengadakan rapat dalam rangka menyambut ujian nasional yang akan diselenggarakan dua minggu lagi.

Nirma pamit pulang lebih dulu kepada Aida. Aida masih enggan untuk pulang. Ia ingin menikmati sejenak suasana pagi menjelang siang di taman sekolahnya. Beberapa anak murid juga masih asyik bermain basket di lapangan.

Tiba-tiba mata Aida menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Ia sedang menonton anak-anak yang bermain basket itu, di pinggir lapangan, Farhan. Tak dinyana Farhan juga melihat ke arah Aida persis saat mata Aida melihat kepadanya. Sejenak mereka saling beradu pandang. Aida lekas tersadar, bersegera menundukkan kepala. Ia mempercepat langkahnya lebih menjauhi lapangan.

“Aida!” Farhan setengah berteriak memanggilnya.

Aida tak menghiraukan panggilan itu.

“Aida, tunggu!”

Akhirnya Aida menyerah juga. Langkahnya terhenti tepat saat Farhan berdiri di depannya.

“Aida, kenapa menghindariku?” Napas Farhan agak tersengal-sengal karena mengejar Aida.

“Kak Farhan, maaf, aku harus segera pulang.”

“Aida, mohon sebentar saja. Aku ingin bicara mengenai balasan suratmu.”

Deg. Mendadak jantung Aida berdegup kencang. Darahnya berdesir.

“Kak, maaf jika pertanyaanku lancang. Aku harap Kakak tak lagi memujiku berlebihan. Surat-surat Kakak membuat hatiku takut berdosa, Kak.”

“Aida, maaf, aku tidak bermaksud demikian.”

“Tapi kenapa Kakak tidak membalas suratku?”

“Aku akan menjawabnya sekarang. Aku memang berniat menjawabnya dengan lisan.”.

Aida terkejut. Ini kali pertama ia berhadapan langsung dengan Farhan dalam waktu yang cukup lama baginya.

“Kak Farhan, mohon dituliskan saja,” Aida lantas berjalan, membelakangi Farhan yang bergeming. Ia pasrah dengan keputusan Aida. Dipandanginya Aida dari punggung gadis itu, sampai tak tampak lagi di matanya.

*****

Siang menjelang sore. Aida terburu-buru pulang ke rumahnya selepas kursus Bahasa Inggris di sekolah. Ada yang istimewa hari ini, yaitu balasan surat dari Farhan. Isinya jawaban atas pertanyaan Aida tentang definisi cinta. Ia tak ingin membukanya sampai tiba di dalam kamar.

Sesampainya di kamar yang bernuansa putih, Aida menyalakan pendingin ruangan, lalu lekas-lekas meletakkan tasnya di atas meja belajar. Dibukanya resleting depan tas itu, diambilnya sepucuk surat beramplopkan warna merah jambu terhias pita warna senada.

Aida membanting tubuhnya ke ranjang, memejamkan matanya sejenak.

Bissmillah,” gumamnya. Perlahan dibukanya surat itu.

Assalamu’alaikum, Aida

Wanita sholehah perhiasan dunia, bidadari surga.

Pujiku terhadapmu adalah bingkai rasa syukurku kepada Sang Pencipta,

yang telah menciptakan kau begitu indah.

Pribadimu yang anggun dan santun,

membuatku merasa betapa sulit kau dijangkau,

hingga jika kelak kau menjadi istriku,

aku akan percaya kau mampu menjaga dirimu sebaik-baiknya.

Aida, kau bertanya kepadaku tentang apakah definisi cinta?

Cinta bagiku adalah kesucian dan pengorbanan.

Aku mencintaimu karena Allah,

hingga aku mampu berkorban untuk tak menyentuhmu sedikit pun,

sampai tiba masa kau menjadi halal untukku.

Beberapa bulan lagi Insya Allah aku akan lulus.

Aku berjanji melanjutkan pendidikanku dengan baik,

agar kelak aku mampu menjadi imam terbaik bagimu.

Aku mencintaimu.

Farhan

Air mata haru bercampur bahagia mengalir di pipi Aida yang putih. Menimbulkan efek kemerahan di hidungnya. Dipeluknya erat surat itu. Matanya menatap langit-langit kamar. Perasaannya tak dapat dilukiskan. Kini ia menyakini Farhan dan dirinya memiliki satu pandangan tentang arti cinta. Begitu pula dengan arti cinta yang dikatakan mamanya….

Sayup terdengar adzan ashar berkumandang. Seiring dengan gema takbir di surau, terukir balasan surat dalam benak Aida yang akan ia tuangkan selepas shalat ashar.

Wa’alaikumsalam,

Kak Farhan yang dirahmati Allah.

Insya Allah segala puji baikmu untukku akan aku rawat selalu,

hingga beranak-pinak penerus kehidupan yang diridhai Allah.

Definisi cintamu adalah penting bagiku,

untuk aku yakini bahwa kau semata-mata mencintaiku karena Allah.

Jika Allah berkehendak,

Insya Allah akan aku tunggu kau hingga tiba masanya.

Aku tak mengenal istilah pacaran.

Syarat untuk mencintaiku hanyalah: Jadikan aku Halal untukmu….

Aida

Diterbitkan oleh Pustaka Mandiri. Penasaran dengan cerita di buku kumpulan cerpen Cinta Perempuan karya Sintha Rosse selanjutnya? Selengkapnya buku bisa dibeli melalui whatsapp: 081216661887

Image by skeeze from Pixabay

Baca juga:

-SR-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

Credit Suisse Incar Pertumbuhan Hingga 100% dari Pasar Sekuritas Cina

Intenselynews.com – Credit Suisse (CSGN.S) ingin meningkatkan saham perusahaan patungan (joint venture) sekuritas China menjadi 100% dan meningkatkan pangsa pasar setelah mendapatkan lampu hijau...

Produk E Commerce yang Paling Banyak Dicari Saat Ini

Intenselynews.com - Mewabahnya virus COVID-19 (virus corona), membawa perubahan besar dalam trend pasar produk e commerce. Beberapa produk tertentu mendadak booming untuk dijual karena...

Transformasi Digital Keuangan, Bagaimana Implementasi di Masa Depan?

Intenselynews.com - Berbagai sektor industri di masa pandemi COVID-19 (corona virus) tengah berjuang untuk memenuhi berbagai kebutuhan pelanggan dengan membangun cara-cara baru. Khususnya di...

Zoom Phone dan CSM ServiceNow, Bikin Pengalaman Kerja Lebih Baik

Intenselynews.com – Baru-baru ini dikabarkan bahwa Zoom Phone atau Zoom Video Communications, Inc. (NASDAQ: ZM) dan ServiceNow  (NYSE: NOW) telah bermitra untuk menciptakan solusi...

Sir Elton John Dianugerahi Penghargaan Emas dari Kerajaan Inggris

Intenselynews.com – Kerajaan Inggris melalui Royal Mint melakukan hal unik untuk merayakan ulang tahun legenda rock asal negaranya, Sir Elton John. Karir sang musisi...
Translate »