TKIT Yayasan Madjlis Dzikir picture
Top Advertisement

Intenselynews.com – Bertepatan dengan hari Kartini 21 April lalu, Taman Kanak-kanak Islam Terpadu, TKIT Yayasan Madjlis Dzikir Al Ikhlas menggelar rangkaian acara Kartinian. Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kepada anak-anak didik lembaga pendidikan tersebut mengenai sejarah pahlawan bangsa Raden Ajeng (RA) Kartini.

Dalam kegiatan itu para siswa mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah dan menggelar lomba pakaian adat terbaik. Di samping mengajarkan anak-anak pengetahuan baju khas daerah, hal tersebut juga untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak sejak dini terhadap budaya Indonesia.

Ibu Nurdiana, sebagai istri dari pendiri Yayasan Madjlis Dzikir Al Ikhlas, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengemukakan pendapatnya bahwa:

“Pendidikan berkarakter dengan mengajarkan kepada anak-anak sejarah pahlawan bangsa sejak dini penting dilakukan agar anak-anak bisa mengambil contoh positif dari para pejuang bangsa,  seperti tidak pantang menyerah dalam meraih cita-cita, dan belajar menjadi pemimpin  yang tangguh, agar berguna bagi keluarga, bangsa, dan negara di masa depan.”

Selain itu, Endryana Spd, selaku Kepala Sekolah TKIT tersebut juga menuturkan bahwa kegiatan tersebut adalah pertama kalinya diadakan dalam memperingati hari Kartini. Dimana diselenggarakan dalam rangka menanamkan jiwa nasionalis kepada para siswa sejak usia dini.

“Sekitar 30 murid dari 2 kelas tingkat A dan B mengikuti acara Kartinian pada Jumat kemarin. Kami mengambil tema “Dengan Semangat Kartini Kita Tingkatkan Generasi Yang Islami, Kreatif, Mandiri, dan Berbudaya,” ungkapnya di lokasi TKIT Yayasan Madjlis Dzikir Al Ikhlas Jumat (26/4/2019)

Acara dimulai sejak jam 08.00 WIB dengan foto bersama terlebih dahulu, dilanjutkan upacara, kemudian memaparkan kepada para murid siapakah sosok RA Kartini.

RA Kartini adalah pahlawan wanita Indonesia yang memperjuangkan emansipasi wanita. Ia dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879. Kartini adalah seorang putri dari bangsawan Jawa. Ia hanya dapat merasakan bangku sekolah sampai umur 12 tahun, karena pada saat itu wanita tidak boleh berpendidikan lebih tinggi dari pria.

Baca juga

Untuk mengisi kesehariannya Kartini banyak menulis surat kepada teman-temannya yang berasal dari Belanda. Dalam surat-suratnya ia banyak menuangkan pikiran-pikirannya tentang masalah wanita Indonesia. Masalah itu seperti rendahnya status sosial wanita, hak tidak dapat menuntut ilmu, harus rela dinikahkan dan dimadu. Ia pun banyak mendapat informasi tentang kemajuan berpikir wanita di Eropa, sehingga timbul keinginan Kartini untuk menaikkan derajat wanita. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan sekolah-sekolah wanita. Ia ingin agar wanita di negaranya juga mempunyai hak untuk menuntut ilmu agar dapat berpikir maju.

“Tujuan diadakannya acara kemarin selain menumbuhkan rasa nasionalis juga menanamkan budaya daerah pada semua murid kami,” tutup Endryana.

-Press Release-

 

3 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here